Penelitian Kuantitatif #01 Pertemuan Pertama : Uji Validitas pada Angaket

Penelitian Kuantitatif Dasar — PjBL × Motivasi Belajar Matematika
r = Σ(x−x̄)(y−ȳ) / √Σ(x−x̄)²·Σ(y−ȳ)²
α = k/(k−1) · (1 − Σsᵢ²/sₜ²)
r
Studi Sederhana · PjBL × Motivasi Belajar Matematika

Penelitian Kuantitatif Dasar

Oleh : Rohmad Wahid Rhomdani
Contoh Kasus

Pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) terhadap Motivasi Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMA pada Materi Lingkaran.

Fokus belajar hari ini

Memahami bagaimana sebuah angket motivasi dibuat dan dinyatakan layak digunakan.

  1. 01
    Teori Motivasi — Hamzah B. Unomenentukan apa yang kita ukur
  2. 02
    Korelasi Pearson Product-Momentmenguji validitas butir angket
  3. 03
    Cronbach's Alpha (α)menguji reliabilitas angket

Belum masuk uji-t — itu untuk pertemuan berikutnya.

Gulir ke bawah
SLIDE 02

Kita Mulai dari Masalah

Misalnya, seorang guru menemukan kondisi berikut di kelasnya:

“

Siswa kelas XI kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran matematika, khususnya pada materi lingkaran.

Guru kemudian mencoba menggunakan pendekatan lain:

PjBL

Project Based Learning · Pembelajaran Berbasis Proyek

Contohnya: siswa mengerjakan proyek yang berkaitan dengan penerapan konsep lingkaran — mengukur, menggambar, dan merancang benda nyata.

Pertanyaan penelitian

Apakah pembelajaran PjBL dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa?

SLIDE 03

Apa yang Kita Teliti?

Ada dua hal utama dalam penelitian ini:

Perlakuan

Pembelajaran PjBL

Perlakuan / pembelajaran yang diberikan kepada siswa.

Diukur

Motivasi belajar matematika

Sesuatu yang kita ukur menggunakan instrumen.

PjBL    Motivasi Belajar

SLIDE 04

Tetapi, Bagaimana Mengukur Motivasi?

Kita tidak bisa melihat motivasi secara langsung. Karena itu kita membutuhkan jembatan antara hal yang tak terlihat dan angka yang bisa dianalisis:

Instrumen.

Instrumen yang digunakan: Angket Motivasi Belajar — siswa diberikan beberapa pernyataan, lalu mereka memberikan jawabannya.

ANGKET MOTIVASI BELAJAR

“Saya bersemangat mengikuti pembelajaran matematika.”

SSSTSSTS

Siswa tinggal memilih salah satu jawaban.

SLIDE 05

Dari Mana Pernyataannya?

Landasan
Teori
Motivasi.

Salah satu rujukan yang dapat digunakan adalah teori / indikator motivasi belajar dari Hamzah B. Uno.

Teori membantu kita menentukan apa saja aspek motivasi yang akan diukur — sehingga kita tidak membuat pertanyaan angket secara asal.

Contoh indikator motivasi belajar menurut Uno:

  1. I.1

    Ada keinginan dan hasrat untuk berhasil.

  2. I.2

    Ada dorongan dan kebutuhan dalam belajar.

  3. I.3

    Ada harapan dan cita-cita masa depan.

  4. I.4

    Ada penghargaan dalam belajar.

  5. I.5

    Ada kegiatan yang menarik dalam belajar.

  6. I.6

    Ada lingkungan belajar yang kondusif.

SLIDE 06

Teori Indikator Pernyataan

Alur kerjanya runtut dan bisa dilacak:

Teori Motivasi
Indikator Motivasi
Pernyataan Angket
Jawaban Siswa
Skor Motivasi
Prinsip yang sangat penting

“Angket harus mempunyai dasar teori.”

SLIDE 07

Contoh Pernyataan Angket

Misalnya kita membuat lima pernyataan berikut. Coba isi sendiri — rasakan bagaimana jawaban berubah menjadi skor.

NoPernyataan
SS · 4S · 3TS · 2STS · 1
Skor
0 / 20

Inilah "skor total". Angka inilah nanti yang menjadi bahan uji validitas: skor tiap butir dibandingkan dengan skor keseluruhan seperti ini.

Terjawab: 0/5

Ini baru butir angket. Tetapi… apakah semua butir tersebut benar-benar layak digunakan? Belum tentu.

SLIDE 08

Maka Kita Mengenal Validitas

Validitas

“Apakah butir angket ini benar-benar mengukur motivasi belajar?”

Validitas berkaitan dengan ketepatan alat ukur — bukan menilai siswanya.

  • Bukan menilai siswa pintar atau tidak.
  • Bukan menilai nilai matematika siswa.
  • Menilai ketepatan butir / instrumen.
SLIDE 09

Contoh Uji Validitas: 20 Siswa × 5 Butir

Misalnya angket diisi 20 siswa dan terdiri dari 5 butir pernyataan. Maka setiap butir diuji satu per satu:

20 siswa × 5 butir = 100 jawaban angket

  • SOAL 1 → valid atau tidak?
  • SOAL 2 → valid atau tidak?
  • SOAL 3 → valid atau tidak?
  • SOAL 4 → valid atau tidak?
  • SOAL 5 → valid atau tidak?

Ada 5 butir, berarti ada 5 kali pengujian — masing-masing membandingkan satu butir dengan skor total.

SLIDE 10

Pearson Product-Moment

Untuk uji validitas empiris, kita dapat menggunakan korelasi Pearson Product-Moment. Ide sederhananya:

Kita melihat hubungan antara skor suatu butir dengan skor keseluruhan instrumen.

Misalnya: Soal 1 dibandingkan dengan skor total → diperoleh r hitung.

SLIDE 11

Apa Itu r Hitung?

Misalnya dari perhitungan diperoleh r hitung = 0,72. Kemudian kita bandingkan dengan r tabel = 0,444 (nilai kritis sesuai banyak siswa):

0,72
r tabel · 0,444
00,20,40,60,81,0
0,72 > 0,444 maka Soal 1 → Valid

Sederhananya: r hitung > r tabel → butir dinyatakan valid, dengan kriteria pengujian yang digunakan.

SLIDE 12

Mengapa Disebut Korelasi?

Karena kita melihat apakah: siswa yang mempunyai skor total motivasi tinggi, cenderung memberikan skor tinggi pula pada butir tersebut? Geser slider di bawah dan amati polanya.

Skor Butir 1Hubungan ↔ Skor Total
r hitung = 0,00
r tabel = 0,444 (n = 20)
Valid

MelemahKekuatan hubunganMenguat

Kalau kecenderungannya kuat, butir tersebut semakin menunjukkan bahwa ia sejalan dengan konstruk yang diukur. Itulah ide dasar korelasi.

SLIDE 13

Validitas ≠ Reliabilitas

Ini penting sekali. Keduanya berbeda, tetapi sama-sama penting. Bayangkan menembak sasaran — klik mode-nya:

Validitas

Apakah alat ukur tepat? → anak panah mengenai sasaran.

≠

Reliabilitas

Apakah alat ukur konsisten? → hasil tembakan relatif konsisten.

PUSAT = MOTIVASI BELAJAR (YANG INGIN DIUKUR)

SLIDE 14

Cronbach’s Alpha

Konsistensi internal

Untuk melihat konsistensi internal angket, kita dapat menggunakan Cronbach's Alpha — yaitu melihat seberapa konsisten butir-butir dalam satu angket sebagai sebuah instrumen.

Misalnya dari 5 butir angket, setelah dihitung diperoleh:

α = 0,00

Angka ini dinilai berdasarkan kriteria reliabilitas yang digunakan dalam penelitian.

0 1,0 0,82 RELIABILITAS
lemah cukup layak baik

Catatan: ambang “memadai” boleh berbeda antar rujukan (umumnya α ≥ 0,70 dianggap dapat diterima).

SLIDE 15

Jadi Ada Dua Pemeriksaan

Sebelum angket digunakan, keduanya harus dilewati:

Pemeriksaan 1 — Uji Validitas

“Apakah setiap butir tepat mengukur motivasi?”

Pearson
Product-Moment
r hitung
Pemeriksaan 2 — Uji Reliabilitas

“Apakah butir-butir angket konsisten?”

Cronbach’s
Alpha
Nilai α
SLIDE 16

Gambaran Besarnya

Sekarang kita sudah punya alur yang utuh:

Teori Motivasi Indikator Butir Angket Skala Likert 1–4 Data 20 Siswa Uji Validitas Uji Reliabilitas Instrumen Layak Digunakan
SLIDE 17

Baru Kemudian: Pre-Test

Setelah instrumen siap dan teruji, instrumen mulai dipakai. Pada tahap PRE-TEST, siswa mengisi angket motivasi sebelum pembelajaran PjBL.

Hasilnya? Sekarang kita mempunyai data motivasi awal siswa — angka yang siap dianalisis.

SiswaSkor MotivasiNilai
Andi
18
Budi
16
Citra
19
Deni
13
· · ·· · ·…
Siswa 20
20

Skor maksimum 20 (5 butir × skor 4).

SLIDE 18

Setelah Itu: Pembelajaran PjBL

Alur lengkap pengambilan datanya seperti ini:

Tahap 1 · Sebelum

Pre-Test

Siswa mengisi angket motivasi sebelum pembelajaran dimulai.

Tahap 2 · Perlakuan

Pembelajaran PjBL

Materi: Lingkaran. Siswa mengerjakan proyek yang berkaitan dengan penerapan konsep lingkaran.

r
Tahap 3 · Sesudah

Post-Test

Siswa kembali mengisi angket motivasi — kita memperoleh data motivasi setelah pembelajaran.

SLIDE 19

Jangan Hafalkan Rumus Dulu

Untuk pemula, pahami dulu makna istilahnya. Anggap ini kamus kecil perjalanan kita:

Teori motivasi
Dasar
Dasar untuk menentukan apa yang diukur.
Indikator
Dasar
Aspek-aspek yang akan diukur.
Angket
Instrumen
Alat untuk mengumpulkan data.
Skala Likert
Instrumen
Cara memberi skor jawaban (1–4).
Validitas
Uji kualitas
Ketepatan alat ukur.
Pearson
Uji kualitas
Korelasi yang dapat digunakan dalam uji validitas empiris.
Reliabilitas
Uji kualitas
Konsistensi alat ukur.
Cronbach's Alpha
Uji kualitas
Koefisien yang umum digunakan untuk reliabilitas internal.
Pre-test
Desain
Pengukuran sebelum perlakuan.
Post-test
Desain
Pengukuran setelah perlakuan.
SLIDE 20

Kesimpulan Hari Ini

Kita tidak perlu langsung takut dengan statistik. Kita mulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana:

Apa yang ingin kita ukur?
Motivasi belajar.
Dasarnya apa?
Teori motivasi — Hamzah B. Uno.
Diukur menggunakan apa?
Angket.
Bagaimana memberikan skor?
Skala Likert 1–4.
Apakah butirnya tepat?
Uji validitas → Pearson Product-Moment.
Apakah angketnya konsisten?
Uji reliabilitas → Cronbach's Alpha.
Itu dulu — belum masuk uji-t

Uji-t menunggu di pertemuan berikutnya.

SLIDE 21

Peta Penelitian Kita

Satu gambar utuh untuk seluruh perjalanan hari ini — dari masalah sampai data siap analisis:

  Bersambung · Pertemuan Berikutnya UJI-T Menguji perbedaan pre-test & post-test
Lab Kuantitatif — catatan perjalanan penelitian

TEORI UNO → PEARSON r → CRONBACH α  ·  INSTRUMEN LAYAK DIGUNAKAN