Penelitian Kuantitatif Dasar
Oleh : Rohmad Wahid RhomdaniPengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) terhadap Motivasi Belajar Matematika Siswa Kelas XI SMA pada Materi Lingkaran.
Memahami bagaimana sebuah angket motivasi dibuat dan dinyatakan layak digunakan.
- 01
Teori Motivasi — Hamzah B. Unomenentukan apa yang kita ukur
- 02
Korelasi Pearson Product-Momentmenguji validitas butir angket
- 03
Cronbach's Alpha (α)menguji reliabilitas angket
Belum masuk uji-t — itu untuk pertemuan berikutnya.
Kita Mulai dari Masalah
Misalnya, seorang guru menemukan kondisi berikut di kelasnya:
“Siswa kelas XI kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran matematika, khususnya pada materi lingkaran.
Guru kemudian mencoba menggunakan pendekatan lain:
PjBL
Contohnya: siswa mengerjakan proyek yang berkaitan dengan penerapan konsep lingkaran — mengukur, menggambar, dan merancang benda nyata.
Apakah pembelajaran PjBL dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa?
Apa yang Kita Teliti?
Ada dua hal utama dalam penelitian ini:
Pembelajaran PjBL
Perlakuan / pembelajaran yang diberikan kepada siswa.
Motivasi belajar matematika
Sesuatu yang kita ukur menggunakan instrumen.
PjBL Motivasi Belajar
Tetapi, Bagaimana Mengukur Motivasi?
Kita tidak bisa melihat motivasi secara langsung. Karena itu kita membutuhkan jembatan antara hal yang tak terlihat dan angka yang bisa dianalisis:
Instrumen yang digunakan: Angket Motivasi Belajar — siswa diberikan beberapa pernyataan, lalu mereka memberikan jawabannya.
“Saya bersemangat mengikuti pembelajaran matematika.”
Siswa tinggal memilih salah satu jawaban.
Dari Mana Pernyataannya?
Motivasi.
Salah satu rujukan yang dapat digunakan adalah teori / indikator motivasi belajar dari Hamzah B. Uno.
Teori membantu kita menentukan apa saja aspek motivasi yang akan diukur — sehingga kita tidak membuat pertanyaan angket secara asal.
Contoh indikator motivasi belajar menurut Uno:
- I.1
Ada keinginan dan hasrat untuk berhasil.
- I.2
Ada dorongan dan kebutuhan dalam belajar.
- I.3
Ada harapan dan cita-cita masa depan.
- I.4
Ada penghargaan dalam belajar.
- I.5
Ada kegiatan yang menarik dalam belajar.
- I.6
Ada lingkungan belajar yang kondusif.
Teori Indikator Pernyataan
Alur kerjanya runtut dan bisa dilacak:
“Angket harus mempunyai dasar teori.”
Contoh Pernyataan Angket
Misalnya kita membuat lima pernyataan berikut. Coba isi sendiri — rasakan bagaimana jawaban berubah menjadi skor.
Inilah "skor total". Angka inilah nanti yang menjadi bahan uji validitas: skor tiap butir dibandingkan dengan skor keseluruhan seperti ini.
Ini baru butir angket. Tetapi… apakah semua butir tersebut benar-benar layak digunakan? Belum tentu.
Maka Kita Mengenal Validitas
“Apakah butir angket ini benar-benar mengukur motivasi belajar?”
Validitas berkaitan dengan ketepatan alat ukur — bukan menilai siswanya.
- Bukan menilai siswa pintar atau tidak.
- Bukan menilai nilai matematika siswa.
- Menilai ketepatan butir / instrumen.
Contoh Uji Validitas: 20 Siswa × 5 Butir
Misalnya angket diisi 20 siswa dan terdiri dari 5 butir pernyataan. Maka setiap butir diuji satu per satu:
20 siswa × 5 butir = 100 jawaban angket
- SOAL 1 → valid atau tidak?
- SOAL 2 → valid atau tidak?
- SOAL 3 → valid atau tidak?
- SOAL 4 → valid atau tidak?
- SOAL 5 → valid atau tidak?
Ada 5 butir, berarti ada 5 kali pengujian — masing-masing membandingkan satu butir dengan skor total.
Pearson Product-Moment
Untuk uji validitas empiris, kita dapat menggunakan korelasi Pearson Product-Moment. Ide sederhananya:
Kita melihat hubungan antara skor suatu butir dengan skor keseluruhan instrumen.
Misalnya: Soal 1 dibandingkan dengan skor total → diperoleh r hitung.
Apa Itu r Hitung?
Misalnya dari perhitungan diperoleh r hitung = 0,72. Kemudian kita bandingkan dengan r tabel = 0,444 (nilai kritis sesuai banyak siswa):
Sederhananya: r hitung > r tabel → butir dinyatakan valid, dengan kriteria pengujian yang digunakan.
Mengapa Disebut Korelasi?
Karena kita melihat apakah: siswa yang mempunyai skor total motivasi tinggi, cenderung memberikan skor tinggi pula pada butir tersebut? Geser slider di bawah dan amati polanya.
Kalau kecenderungannya kuat, butir tersebut semakin menunjukkan bahwa ia sejalan dengan konstruk yang diukur. Itulah ide dasar korelasi.
Validitas ≠ Reliabilitas
Ini penting sekali. Keduanya berbeda, tetapi sama-sama penting. Bayangkan menembak sasaran — klik mode-nya:
Validitas
Apakah alat ukur tepat? → anak panah mengenai sasaran.
Reliabilitas
Apakah alat ukur konsisten? → hasil tembakan relatif konsisten.
Cronbach’s Alpha
Untuk melihat konsistensi internal angket, kita dapat menggunakan Cronbach's Alpha — yaitu melihat seberapa konsisten butir-butir dalam satu angket sebagai sebuah instrumen.
Misalnya dari 5 butir angket, setelah dihitung diperoleh:
Angka ini dinilai berdasarkan kriteria reliabilitas yang digunakan dalam penelitian.
Catatan: ambang “memadai” boleh berbeda antar rujukan (umumnya α ≥ 0,70 dianggap dapat diterima).
Jadi Ada Dua Pemeriksaan
Sebelum angket digunakan, keduanya harus dilewati:
“Apakah setiap butir tepat mengukur motivasi?”
Product-Moment r hitung
“Apakah butir-butir angket konsisten?”
Alpha Nilai α
Gambaran Besarnya
Sekarang kita sudah punya alur yang utuh:
Baru Kemudian: Pre-Test
Setelah instrumen siap dan teruji, instrumen mulai dipakai. Pada tahap PRE-TEST, siswa mengisi angket motivasi sebelum pembelajaran PjBL.
Hasilnya? Sekarang kita mempunyai data motivasi awal siswa — angka yang siap dianalisis.
Skor maksimum 20 (5 butir × skor 4).
Setelah Itu: Pembelajaran PjBL
Alur lengkap pengambilan datanya seperti ini:
Pre-Test
Siswa mengisi angket motivasi sebelum pembelajaran dimulai.
Pembelajaran PjBL
Materi: Lingkaran. Siswa mengerjakan proyek yang berkaitan dengan penerapan konsep lingkaran.
Post-Test
Siswa kembali mengisi angket motivasi — kita memperoleh data motivasi setelah pembelajaran.
Jangan Hafalkan Rumus Dulu
Untuk pemula, pahami dulu makna istilahnya. Anggap ini kamus kecil perjalanan kita:
- Teori motivasi Dasar
- Dasar untuk menentukan apa yang diukur.
- Indikator Dasar
- Aspek-aspek yang akan diukur.
- Angket Instrumen
- Alat untuk mengumpulkan data.
- Skala Likert Instrumen
- Cara memberi skor jawaban (1–4).
- Validitas Uji kualitas
- Ketepatan alat ukur.
- Pearson Uji kualitas
- Korelasi yang dapat digunakan dalam uji validitas empiris.
- Reliabilitas Uji kualitas
- Konsistensi alat ukur.
- Cronbach's Alpha Uji kualitas
- Koefisien yang umum digunakan untuk reliabilitas internal.
- Pre-test Desain
- Pengukuran sebelum perlakuan.
- Post-test Desain
- Pengukuran setelah perlakuan.
Kesimpulan Hari Ini
Kita tidak perlu langsung takut dengan statistik. Kita mulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana:
Uji-t menunggu di pertemuan berikutnya.
Peta Penelitian Kita
Satu gambar utuh untuk seluruh perjalanan hari ini — dari masalah sampai data siap analisis: